Selasa, 23 Mei 2017

breaking-news Ifo: Indeks Iklim Bisnis Jerman naik ke 114.6 di Mei dari 112.9 di April, estimasi 113.1.

world-economy  World Economy

Terancam Perang, Timur Tengah Tetap Atraktif di Mata Investor

Rabu, 28 Agustus 2013 17:19 WIB
Dibaca 1464

Monexnews - Bursa saham negara Timur Tengah anjlok tajam awal pekan ini. Pada sesi perdagangan Selasa (27/08) indeks-indeks utama merosot drastis akibat terpengaruh potensi agresi militer Amerika Serikat ke Syria. Namun demikian, koreksi tersebut belum mampu menggerus rasio kenaikan harga 2013 yang mencapai puluhan persen.

Indeks Dubai Financial Market turun 7% kemarin tetapi masih menguat hingga 60% sejak bulan Januari silam. Bursa Abu Dhabi juga telah meraup gain hingga 50%, kemudian disusul oleh indeks Kuwait dengan rasio kenaikan year-to-date sebesar 30%. Adapun indeks Oman dan Qatar naik nyaris 20%. Keempat indeks tersebut memang mencatat koreksi signifikan di tengah eskalasi krisis militer di Syria namun rasio penurunannya tidak se-dramatis di bursa Dubai.

Uni Emirat Arab memang menjadi salah satu lahan investasi, baik riil maupun keuangan, paling panas di dunia dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan ekonominya bahkan lebih cepat dibandingkan dengan negara emerging lain seperti China, India atau Rusia. Fenomena ini dimungkinkan karena perekonomian Timur Tengah cukup terisolasi dari pengaruh buruk trend perlambatan ekonomi global. Dua wilayah dengan laju investasi tercepat adalah Dubai dan Kuwait. Pertumbuhan pasar real estat domestik yang pesat di Dubai sukses memancing animo investor asing untuk menanamkan modalnya. Sementara Kuwait mendapat suntikan ekonomi dari kuatnya pertumbuhan laba perusahaan dan program pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

Sayangnya, reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun kini terancam oleh risiko berlangsungnya perang baru antara Amerika Serikat dan militer Syria. "Potensi perang Syria merupakan ancaman terbesar bagi stabilitas dunia dan pasar keuangan global sejak penyebaran konflik politik di beberapa negara Arab tahun 2011 lalu," ujar Ashraf Laidi, Ahli Strategi Global Lembaga Keuangan City Index. Skenario terburuk bukanlah bagaimana Syria merespon ancaman militer Amerika Serikat, namun reaksi apa yang mungkin ditunjukkan oleh sekutu rejim Assad, yaitu Iran. Apabila Iran benar-benar turut campur dalam tragedi kemanusiaan tersebut, maka situasi politik di Timur Tengah bisa semakin membara.

Hampir seluruh kawasan Teluk Arab merupakan area investasi favorit bagi pemodal asing dalam beberapa tahun belakangan. Dubai adalah wilayah paling maju dibandingkan kota-kota Arab lainnya. Namun di tengah instabilitas benua akibat konflik politik dan militer, investor diprediksi melakukan penarikan modal besar-besaran dalam beberapa pekan ke depan. Mohammad Aama, Chief Investment Officer Beam Capital Management mengatakan bahwa pemilik modal diyakini mulai mengunci keuntungannya di Dubai untuk kemudian mencari target investasi baru sampai segala sesuatunya lebih jelas. Sementara investor lokal yang meminjam modal dari broker untuk bertransaksi di Dubai kini dipaksa melakukan aksi jual guna memenuhi persyaratan marjin.

Meskipun agresi Syria dan eskalasi politik di wilayah Timur Tengah terus meninggi, fundamental ekonomi beberapa negara diyakini tetap kuat. Masih ada pula area yang dipandang rendah oleh investor padahal prospek keuntungannya cukup bagus seperti Arab Saudi dan Qatar. Dubai sendiri dianggap undervalued karena peluang keuntungan modal di sana masih sangat besar terlepas dari maraknya pembangunan megaproyek infrastruktur yang sudah berlangsung. Pun demikian, aksi wakit and see cenderung dilakukan oleh pemodal di pasar saham untuk menyikapi kondisi terkini. Setelah kepastian didapat dan harga ekuitas turun drastis, aksi beli besar-besar diprediksi kembali meningkat.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `