Jumat, 24 Maret 2017

world-economy  World Economy

Terbukti Mainkan Harga, Fonterra Terkena Sanksi China

Rabu, 7 Agustus 2013 9:59 WIB
Dibaca 468

Monexnews - Belum lepas dari ekslasi isu yang negatif terkait kandungan bakteri dalam produknya, Fonterra Co. kembali mengalami 'cobaan'. Produsen bahan dasar susu terbesar dunia itu beberapa jam lalu menyatakan pihaknya didenda oleh badan perencana ekonomi China sebesar NZ$900.000 atau setara $705.000. Otoritas menilai Fonterra telah melakukan praktik permainan harga pada penjualan produk susu di wilayah China daratan.

"Kami menerima sanksi National Development and Reform Commission (NDRC) dan lebih bisa memahami implementasi kebijakan harga secara jelas untuk kelangsung bisnis Fonterra di masa depan," demikian respon Kelvin Wickham, Presiden Fonterra untuk wilayah China dan India. Denda yang diberikan oleh NDRC kian melengkapi derita Fonterra di industri susu olahan selama Agustus 2013. Konsumen pangan Asia dan pelaku pasar keuangan dunia pekan ini dikejutkan oleh kabar ditemukannya kandungan bakteri dalam produk buatan Fonterra Group. Beberapa produk dari perusahaan asal New Zealand yang diekspor ke China itu diduga mengandung bakteri yang bisa menyebabkan keracunan.

Fonterra merupakan penyedia produk turunan susu terbesar dunia. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar nyaris mencapai seluruh penjuru benua, dengan produk andalan berupa susu formula dan minuman kemasan. Pihak direksi akhir pekan lalu mengumumkan bahwa tiga jenis zat protein dalam produknya positif mengandung bakteri Clostridium yang rentan memicu keracunan bagi konsumennya. Sebagai penyuplai bahan dasar susu bagi banyak perusahaan, Fonterra mengirimkan susu alami ke pihak produsen berbagai produk turunan seperti yoghurt dan minuman ringan. Oleh karena itu, pereseroan mengantisipasi adanya permintaan dari mitra dagang mereka untuk menarik kembali bahan dasar susu yang sudah dikirimkan.

Namun demikian, pemerintah China sudah resmi menghentikan seluruh ekspor produk susu dari New Zealand dan Australia demi melindungi warganya dari ancaman bakteri. Hal itu diakui oleh Menteri Perdagangan Tim Groser dalam siaran televisi Minggu kemarin. Namun kementerian perdagangan menyebut embargo China hanya bersifat sementara dan pihak Beijing sedang memperketat inspeksi dan pengawasan segala produk impor susu sampai segala sesuatunya lebih jelas. "China belum menutup pasar bagi produk susu New Zealand, namun sedang mempelajari jenis produk (Fonterra) apa saja yang tidak diizinkan masuk," tegas Groser.

Eskalasi isu bakteri protein dalam produk Fonterra berbalik menjadi sentimen besar di pasar keuangan beberapa hari terakhir. Nilai tukar Dollar New Zealand melemah drastis sejak berita itu pertama kali mencuat pekan lalu. Aset berbasis negara ini memang sempat dijauhi oleh investor karena peran Fonterra sebagai parameter ekonomi nasional memang cukup besar. Selain membuka ribuan tenaga kerja di banyak negara, perseroan adalah motor penggerak sektor produksi susu, yang berkontribusi sebanyak 3% terhadap total GDP New Zealand. Khusus untuk produk yang diduga mengandung bakteri, beberapa negara selain China amemang sudah lama menjadi pelanggan setia yakni Australia, Malaysia, Arab Saudi, Thailand dan Vietnam.

Menurut hasil penelitian historis, keracunan akibat bakteri protein bisa berujung fatal, yang diawali dengan demam selama 36 jam sejak pertama kali konsumsi. Infeksi parah dapat berakibat pada paralysis dan masalah pernafasan sebagaimana hasil penelitian U.S. National Institutes of Health. Belum ada pernyataan resmi dari pihak perusahaan dan negara importir tentang jenis produk apa saja yang harus dijauhi oleh konsumen. Hanya China yang sudah secara jelas menghentikan pengiriman segala produk susu dari wilayah Oseania.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar