Senin, 24 Juli 2017

world-economy  World Economy

' Uang > Nasionalisme '

Kamis, 28 Agustus 2014 11:13 WIB
Dibaca 1038

Monexnews - Tingginya pungutan pajak yang dikenakan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan membuat pelaku usaha kelimpungan. Bos-bos korporasi berusaha untuk 'lari' dari kewajiban upeti dengan berbagai cara, mulai dari aksi 'inversion' atau merjer dengan perusahaan asing hingga parkir laba di negara lain.  

Pemerintah Amerika mulai gerah dengan langkah merjer yang dilakukan oleh perusahaan domestik dengan korporasi luar. Masalahnya penggabungan unit usaha yang marak belakangan ini bukanlah untuk tujuan bisnis, namun lebih kepada strategi untuk menghindari pajak atau inversion. Contoh terbaru dari implementasi inversion dapat dilihat pada merjer restoran cepat saji, Burger King dengan perusahaan kopi asal Kanada, Tim Hortons, yang prosesnya tuntas kemarin.

Seperti diketahui, perusahaan Amerika hanya akan mendapat fasilitas pemotongan pajak apabila berkongsi dengan perusahaan asing dan mau memindahkan markasnya ke luar negeri. Tujuan utama dari fasilitas ini sebenarnya untuk merangsang ekspansi perusahaan ke negara lain, meski dalam realitanya justru dimanfaatkan oleh pemilik usaha untuk lari dari tanggung jawab pajak. Dengan beban pajak yang lebih rendah, maka pos keuntungan suatu perusahaan akan lebih besar ketimbang jika roda operasionalnya terdaftar di dalam negeri.

Dalam satu dasawarsa terakhir, setidaknya ada 48 perusahaan yang sukses menjalankan strategi inversion via merjer. Beberapa perusahaan lainnya dikabarkan juga ingin mewujudkan niat serupa, seperti yang sudah diajukan oleh produsen obat, Mylan, satu bulan lalu. Mylan ingin merancang merjer dengan merangkul anak usaha Abbott Laboratories asal Belanda sekaligus memindahkan kantornya ke luar negeri.

Sementara bagi perusahaan raksasa Amerika yang namanya sudah mendunia, rencana menghindari pajak bahkan bisa dilakukan dengan cara yang lebih cantik. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak korporasi besar tidak memasukkan jumlah labanya dari luar negeri ke dalam neraca keuangannya yang diatur oleh hukum Amerika. Perusahaan seperti Apple dan Microsoft biasa 'memarkir' uangnya di negara lain sehingga jumlah laba yang masuk ke kas menjadi lebih sedikit. Dengan catatan laba yang lebih rendah, maka beban pajak mereka tidak akan terlalu besar ketimbang jika jumlah keuntungan dari pasar luar negeri juga ikut dimasukkan. Microsoft misalnya, produsen software ini sukses mengurangi beban pajaknya hingga $29.6 miliar pada tahun lalu hanya dengan cara memarkir kas $92.9 miliar di negara lain. Hal serupa juga diikuti oleh perusahaan-perusahaan multinasional asal negeri Paman Sam dari berbagai sektor.

Mengapa perusahaan-perusahaan itu rela mengabaikan nasionalismenya demi uang? Jawabannya sangat mudah. Besaran pajak korporasi di Amerika adalah yang terbesar di antara negara-negara maju dengan pungutan rata-rata mencapai 35%.

Pada umumnya, perusahaan multinasional memang melaporkan berapa jumlah kas yang mereka pegang di luar negeri kepada otoritas bursa. Namun nyaris tidak ada satupun yang mau terus terang mempublikasikan berapa jumlah pajak yang mereka tanggung.

Berikut ini adalah 7 perusahaan besar Amerika yang menyimpan kas sebanyak lebih dari $50 miliar di luar negeri (sumber:CNN):


1. Apple = $111.3 miliar

2. General Electric = $110 miliar

3. Microsoft = $92.9 miliar

4. Pfizer = $69 miliar

5. Merck = $57.1 miliar

6. IBM = $52.3 miliar

7. Johnson & Johnson = $50.9 miliar

Pemegang saham masing-masing perusahaan tentu menutup mata dengan kebijakan yang diambil oleh pihak direksi. Mereka tentu lebih mementingkan kemajuan objek investasinya dan kelancaran pembayaran dividen setiap tahun. Kalaupun ada pihak yang paling keberatan dengan aksi hindar pajak, maka tidak lain adalah pemerintah. Presiden Barack Obama sudah beberapa kali menyindir para bos perusahaan yang hobi memarkir uang di luar negeri dengan istilah 'tidak patriotik'. Selama belum ada payung hukum yang menaunginya, strategi inversion atau parkir uang di luar negeri tetap berada di zona abu-abu alias bukan kejahatan meski tidak bisa disebut bijak.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar