Senin, 27 Maret 2017

world-economy  World Economy

Ukraina Ditunggu Bencana Ekonomi Besar

Selasa, 4 Februari 2014 11:17 WIB
Dibaca 635

Monexnews - Ukraina sedang menghadapi bencana ekonomi di tengah krisis kepemimpinan yang berlangsung hampir 3 bulan belakangan. Kurs mata uang negara pecahan Soviet ini merosot ke level terendah dalam empat tahun terakhir karena investor khawatir dengan perang ideologi ekonomi antara warga dan birokrat.

Pangkal konflik Ukraina dimulai pada bulan Desember lalu saat pemerintah Rusia memberikan bantuan tunai senilai $3 miliar dari total jumlah hibah yang direncanakan mencapai $15 miliar kepada pihak Kiev. Sikap pemerintah yang menerima sodoran uang dari pihak Moskow dianggap tidak sesuai dengan ideologi ekonomi nasional oleh sebagian warga sehingga memicu gelombang demonstrasi di ibukota.

Aksi demonstrasi antar elemen masyarakat sudah berlangsung nyaris tiga bulan terakhir. Opini publik terpecah menyangkut kedekatan ekonomi politik Ukraina dengan pihak Rusia. Pihak yang gencar melakukan demonstrasi di ibukota Kiev adalah warga masyarakat yang ingin supaya negaranya lebih berkiblat ke zona Euro, dan bukan merapat ke Rusia. Perang ideologis inilah yang ditakutkan menjadi benih terjadinya perang sipil. "Ukraina sudah terpecah. (Warga) bagian tengah dan barat menginginkan negaranya mendekat ke Eropa. Sedangkan (warga) bagian tenggara lebih pro ke Rusia," ujar Ian Bremmer, Presiden Grup Eurasia kepada awak media pekan lalu.

Merespon sikap agresif demonstrasn, perdana menteri Mykola Azarov menutuskan untuk mundur demi mencegah perang saudara. Presiden Viktor Yanukovych, sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas proyek pinjaman dana ke Rusia, langsung bereaksi dengan membuka pintu perundingan dengan pihak oposisi guna membahas konflik politik. Sayangnya semua proses negosiasi masih menemui jalan buntu.

Sejak pekan lalu, nasabah mengunjungi bank dan money changer di seluruh penjuru Ukraina untuk berburu Dollar karena takut kurs mata uang negaranya anjlok di tengah kisruh politik. Pasca lengsernya perdana menteri Azarov, partai oposisi Ukraina meminta pemerintah pusat untuk menolak segala bentuk bantuan dan hibah dari pihak Rusia dan beralih pro ke Uni Eropa. Presiden dan kabinetnya belum mengiyakan titah warga anti-Rusia karena kerjasama diplomatik dengan Rusia baru dimulai. Namun kondisi akan menjadi sangat dilematis apabila pemerintah benar-benar mengabulkan permintaan warga pro-zona Euro. Jika Ukraina memutuskan untuk mengembalikan semua paket bantuan finansial dari Kremlin, maka negara ini tidak akan memiliki sokongan dana dari pihak luar. Tanpa adanya paket bantuan asing, Ukraina hampir pasti bangkrut (default) dan/atau terpaksa men-devaluasi mata uangnya, kecuali pemerintah rela menjilat ludah sendiri dengan berbalik mengiba kepada Uni Eropa. 

Bukannya membaik, kondisi kini justru semakin pelik. Rusia sudah memberikan sinyal keengganan untuk mengucurkan paket lanjutan yang jumlahnya mencapai $3 miliar. Pihak Moskow sepertinya tidak ingin memborong obligasi suatu negara yang loyalitasnya meragukan. Mata uang Ukraina, Hryvnia, langsung anjlok terhadap Dollar karena bank sentral mulai kehabisan cadangan devisa. Jika nantinya kurs terus menurun, maka sektor perbankan akan terkena efeknya pertama kali, kemudian disusul oleh daya beli konsumen dan pemerintah kehabisan modal untuk beroperasi.

Pihak Uni Eropa sendiri terlihat adem ayem dalam menyikapi perkembangan di negara balkan itu. Sejak 1991, Uni Eropa memang merupakan donatur terbesar bagi Ukraina dengan total hibah pertamanya kala itu mencapai 3.3 miliar Euro. Menurut Catherine Ashton, pejabat pembuat kebijakan luar negeri Uni Eropa, pihaknya bersedia memberikan bantuan kepada Ukraina supaya krisis bisa cepat terselesaikan. Namun presiden Yanukovuch harus terlebih dahulu meneken persyaratan yang diajukan oleh Dana Moneter Internasional.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar