Senin, 18 Desember 2017

world-economy  World Economy

Uni Eropa Kecam Praktik Dumping Eksportir China

Rabu, 5 Juni 2013 10:47 WIB
Dibaca 430

Monexnews - Pemerintah Eropa baru saja menembakkan amunisi kebijakan kepada pihak China, yang dianggap sedang memulai perang perdagangan multilateral. Negara perekonomian terbesar Asia berulangkali dituding melakukan praktik dumping dalam kerjasama ekspor impor dengan pihak Uni Eropa.

Komisi Eropa pada hari Selasa (04/06) meresmikan tarif provisional baru bagi produk solar panel (matahari) yang diimpor dari China. Kebijakan ini merupakan peringatan bagi China yang kerap membanjiri pasar Eropa dengan produk berharga murah, bahkan di bawah harga produksinya (dumping). "Kebijakan kami hari ini adalah langkah darurat untuk melindungi pelaku bisnis Eropa dari aksi dumping," ujar Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Karel de Gucht. Ia menyatakan bahwa harga ideal untuk produk panel solar dari China seharusnya 88% lebih tinggi dibandingkan level saat ini.

Pemberlakuan tarif 11.8% akan diterapkan untuk seluruh produk panel solar mulai tanggal 6 Juni. Dua bulan kemudian, pajak rata-rata dinaikkan menjadi 47.6% sehingga Uni Eropa memiliki posisi tawar untuk bernegosiasi dengan pihak China terkait persaingan produknya. Apabila disiplin pajak gagal memuluskan jalan negosiasi dengan Beijing, Uni Eropa pada bulan Desember akan memutuskan apakah pajak permanen diberlakukan kembali untuk lima tahun berikutnya.

Tarif baru itu akan berlaku untuk produk impor panel Eropa yang nilai totalnya mencapai 21 miliar Euro. Namun pemerintah Eropa berharap efek psikologisnya turut berdampak pada komponen perdagangan lain sehingga muncul kesadaran dari China supaya lebih membuka persaingan harga dengan produsen di dalam wilayah Eropa. European Union merupakan mitra dagang China setelah Amerika Serikat dengan nilai transaksi tahunan mencapai 480 miliar Euro.

Komisi Eropa berkepentingan melindungi 25.000 pekerja yang bernaung di sektor produksi panel solar. Apabila China terus membanjiri Eropa dengan produk berharga murah, bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan segera bangkrut dan terpaksa mem-PHK karyawannya. "(Kebijakan) ini bukan proteksionisme," tegas de Gucht, seraya memperingatkan China agar mengikuti aturan yang berlaku di wilayahnya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar