Kamis, 20 Juli 2017

world-economy  World Economy

Warga Amerika Lebih Suka Memegang Tunai Ketimbang Investasi

Selasa, 30 Juli 2013 11:11 WIB
Dibaca 539

Volatilitas di pasar keuangan membuat masyarakat makin skeptis dalam menentukan keputusan investasinya. Di Amerika Serikat, sebagian warga cenderung enggan menanamkan modalnya pada aset-aset keuangan konvensional karena khawatir dengan prospek imbal hasil untuk jangka panjang.

Monexnews - Lembaga survei Bankrate baru saja merilis hasil jajak pendapat terhadap 1000 responden di wilayah Amerika Serikat. Hasilnya, sebanyak 26% warga memilih untuk memegang dana tunai sebagai opsi simpanan jangka panjang dibandingkan menempatkannya pada komponen aset long-term. Tawaran imbal hasil dari produk-produk konvensional seperti saham, obligasi, emas dan real estat bukanlah faktor alasan utama.

"Produk yang selama ini dianggap sebagai investasi aman sudah terbukti lebih berisiko untuk jangka waktu 10 tahun atau lebih," ujar Greg McBride, Analis Keuangan Senior Bankrate. Selain karena sulit untuk mengumpulkan uang demi investasi, responden menganggap penanaman modal pada portofolio tersebut tadi rentan mengurangi nilai simpanan. Padahal di masa depan mereka sangat membutuhkan dana tabungan, baik untuk pensiun maupun biaya pendidikan anak-anaknya.

Di tengah iklim suku bunga rendah yang diberlakukan oleh bank sentral, menyimpan uang di bawah kasur atau menaruhnya pada produk investasi memang tidak akan menghasilkan bunga besar. Apabila seorang warga berinvestasi $10.000 di produk keuangan saat ini, maka rata-rata imbal hasil yang didapat dalam satu dasawarsa ke depan hanyalah $110. Demikian kalkulasi yang dilakukan oleh Bankrate. Atas dasar itulah banyak warga memilih untuk menyimpan uang secara tunai ketimbang bermain di pasar saham. "Namun untuk jangka waktu yang lebih panjang (di atas 10 tahun), ada baiknya anda bersikap lebih agresif dalam berinvestasi," kilah McBride.

Jika diurut lebih jauh, menyimpan uang tunai dalam jangka waktu panjang sesungguhnya hanya merugikan pemilik modal. Nilai simpanan pada saat akan digunakan (misalnya 10 tahun lagi) akan tergerus oleh tekanan inflasi. Jumlah $10.000 di tahun 2013 dengan $10.000 di tahun 2023 tentu akan sangat berbeda. Apa yang bisa dibeli hari ini dengan uang sebesar itu pastinya tidak akan bisa terjangkau oleh jumlah yang sama 10 tahun lagi.

Pihak responden yang disurvei juga mengetahui kalau indeks S&P 500 dalam sejarahnya mampu menghasilkan return rata-rata 9% termasuk dividen. Namun demikian, hanya 14% warga yang tergoda dengan prospek return produk saham sebagai aset investasi jangka panjang. Salah satu event yang menciptakan trauma dan alergi investasi tak lain adalah krisis keuangan yang melanda Amerika pada tahun 1998 silam. Banyak yang mengalami kerugian besar dari volatilitas pasar saham kala itu sehingga tidak sedikit investor yang bersumpah tidak akan masuk ke bursa ekuitas lagi. Bahkan lima tahun setelah kejadian itu, minat berisiko juga belum kunjung pulih. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan menanam modal pada aset yang rentan guncangan dan penuh spekulasi. Untuk produk yang lebih aman pun, seperti emas dan obligasi, tingkat kepercayaan warga belum sepenuhnya kembali.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar