Kamis, 19 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Xiaomi, Anak Bawang Penghancur Dominasi Samsung

Rabu, 6 Agustus 2014 14:12 WIB
Dibaca 1718

Monexnews - Dominasi Samsung di pasar smartphone China telah berakhir seiring kemunculan pemain baru. Adalah Xiaomi, merk yang menyita perhatian pengamat teknologi berkat capaian labanya yang fantastis di tahun 2014.

Pada kuartal II lalu, jumlah pengiriman unit smartphone Xiaomi ke tangan konsumen China melampaui angka penjualan Samsung. Merk yang didirikan oleh sosok bernama Lei Jun tersebut sukses menguasai 14% pasar ponsel China dengan skala pemasaran mencapai 15 juta unit smartphone atau setara kenaikan 240% dibandingkan satu tahun sebelumnya.

Selain Samsung, saingan terdekat Xiaomi di wilayah China adalah Lenovo, Yulong dan Huawei. Keempatnya memiliki pangsa pasar lebih dari 10% dengan selisih jumlah pengguna sangat tipis. Sementara di luar negeri, nama Xiaomi relatif asing di telinga pengguna gadget karena perusahaan memang masih fokus memenuhi permintaan dari dalam negeri. Namun bukan berarti Xiaomi enggan menggarap pasar luar negeri, karena sepanjang kuartal II lalu sebanyak 97% pengirimannya justru ke pasar internasional.

Kesuksesan Xiaomi bukanlah keberuntungan semata, namun lebih pada sebuah efek dari persiapan yang matang. Untuk menembus pasar internasional, pihak direksi bahkan sudah menyewa jasa mantan salah satu bos Google, Hugo Barra, untuk dijadikan chief executive. Barra adalah orang yang bertanggungjawab mengkampanyekan merk dagang Xiaomi di wilayah target ekspansi seperti Indonesia, Meksiko, Rusia, Thailand dan Turki.

Karakteristik Bisnis Xiaomi

Sebagai pemain baru (usia 4 tahun) di industri ponsel, Xiaomi menjalankan strategi dagang yang terbukti ampuh untuk menjaring pembeli. Perusahaan tidak menjual smartphone melalui gerai dan counter, melainkan melepasnya langsung ke tangan konsumen via pemesanan online. "Cara yang kami lakukan hampir sama dengan Amazon," demikian pengakuan Lei tahun lalu kepada pihak media. Penjualan secara online dianggap efektif karena bisa menghemat pengeluaran operasional. Lei Jun mengaku kalau marjin keuntungan dari setiap ponsel sangat tipis, jadi ia lebih mengutamakan agar produknya laku keras ketimbang mengambil keuntungan besar dari penjualan ponsel yang hanya sedikit. Dengan harga rata-rata $130 atau tidak sampai Rp1.5 juta per unit, tidak heran jika setiap varian ponsel Xiaomi selalu habis diserbu pembeli. Harga sebesar itu sangat jauh lebih murah jika dibandingkan dengan ponsel Apple dan bahkan Samsung sekalipun. Xiaomi mengakumulasikan harga tenaga kerja dan komponen dari suatu produk, baru kemudian melepasnya ke pasar dengan marjin keuntungan yang tidak besar. "Harga produk kami memang hanya sepertiga ponsel Apple," klaim Lei Jun pada sebuah kesempatan.

Uniknya semua aktivitas bisnis perusahaan juga dilakukan secara online, mulai dari penjualan konten hingga layanan servis. Tidak hanya itu, Xiaomi juga memperlakukan penggunanya layak keluarga dengan menyediakan forum khusus bagi mereka. Dari forum-forum online yang di-support oleh divisi IT, Xiaomi bisa mendapatkan masukan tentang kekurangan dan kelebihan produk terbaru untuk kemudian melakukan penyempurnaan lagi pada produk berikutnya. Perusahaan bahkan memperbarui sistem operasinya setiap hari Jumat hanya untuk menyenangkan pengguna setianya.

Kombinasi antara harga, kualitas dan strategi yang tepat, Xiaomi sukses menguasai pasar ponsel China dan bukan tidak mungkin juga perusahaan ini akan mampu menembus pasar internasional. Dengan adanya merk-merk canggih nan terjangkau, penikmat teknologi bebas memilih gadget mana yang sesuai dengan kebutuhan dan koceknya masing-masing. Bagi Apple dan Samsung, kehadiran anak bawang seperti Xiaomi tentu akan membuat keduanya tidak nyaman, terutama di tanah Tiongkok.   (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar