Jumat, 20 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

world-economy  World Economy

Yunani Bukanlah Negara Paling Banyak Hutang

Senin, 20 Juli 2015 14:16 WIB
Dibaca 2664

Monexnews - Citra Yunani di mata dunia sudah tercoreng akibat krisis hutang yang dialaminya. Namun sesungguhnya negara ini tidak perlu malu ketika menyangkut urusan hutang, karena di luar sana masih banyak negara yang punya beban lebih besar.

Pada bulan Juli lalu, Dana Moneter Internasional atau IMF menyatakan bahwa persentase hutang Yunani akan menembus 200% dari nilai produk domestik bruto (GDP)-nya di tahun 2017 mendatang. Jumlah itu meningkat dibandingkan penelitian bulan April yang hasil prediksinya sebesar 151,8% dari GDP.

Jumlah hutang Yunani sangat besar dan mustahil terlunasi tanpa bantuan pihak luar. Dengan nilai produk domestik bruto (GDP) yang hanya sekitar 240 miliar Euro, negara ini sekarang harus menanggung beban hutang mencapai 323 miliar Euro atau setara Rp4.700 triliun! Tidak heran jika banyak pihak sudah pesimis kalau Yunani bisa terselamatkan karena jika mendapatkan uang bailout pun, pemerintahnya harus memakai dana itu untuk menambal hutang sebelumnya yang jatuh tempo. Selanjutnya, mereka harus melakukan pemangkasan anggaran belanja super-kejam sebagai konsekuensi kesepakatan dengan pihak kreditur.

Dari jumlah hutang sebesar 323 miliar Euro, sebanyak 60% merupakan pinjaman fasilitas European Financial Stability Fund zona Euro dengan total nominal 141,8 miliar. Adapun 52,9 miliar merupakan lainnya adalah fasilitas hutang khusus yang diperuntukkan bagi Yunani. Komposisi pinjaman sisanya cukup beragam yaitu sebanyak 10% berasal dari Dana Moneter Internasional (IMF), 6% dari European Central Bank (ECB), 15% dari obligasi, 3% dari bank-bank domestik, 1% dari bank asing, 1% dari bank sentralnya dan 4% dari pinjaman lain-lain.

Kalau urusan nominal hutang, Yunani sebenarnya tidak perlu minder karena banyak negara lain yang punya beban lebih besar. Jepang menjadi negara penggemar hutang teratas dengan rasio sekitar 250% dari GDP. Posisi ke-dua ditempati oleh Amerika Serikat dan disusul oleh negara-negara Eropa semacam Irlandia, Belgia, Italia, Austria,Inggris dan Prancis. Kecuali Irlandia dan Italia, semua negara tadi tidak menunjukkan gejala krisis atau gagal bayar karena hutangnya terstruktur dengan baik. Meski harus meminjam dana dari pihak luar, negara-negara maju bisa memanfaatkan modal segar yang didapatnya untuk proyek-proyek produktif. Perekonomiannya juga tertata dengan apik sehingga hutang-hutang selalu bisa dibayar sesuai jadwal. Sementara Yunani terbukti gagal mengelola kasnya karena besar pasak daripada tiang. Yunani bukanlah eksportir atau negara dengan tingkat permintaan domestik kuat. Sumber pemasukannya juga tidak jauh dari sektor pariwisata, yang sayangnya lebih bersifat musiman. Budaya korupsi dan penyelewengan dana juga membuat anggaran belanja negara tidak terserap secara optimal oleh lembaga publik. Tidak heran jika pemerintahnya sekarang tidak tahu cara mengembalikan uang yang dipinjamnya.

Nyaris semua fasilitas pinjaman dari pihak luar sudah dipakai oleh Yunani, mulai dari dana darurat Eropa hingga penjualan obligasi.Krisis hutang Yunani adalah problema jangka panjang yang hanya bisa diselesaikan dengan reformasi keuangan dan pemberantasan korupsi secara berkesinambungan. Karena jika tidak, negara ini bisa menggeser posisi Jepang sebagai negara penghutang nomor satu dunia. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar