Jumat, 24 November 2017

world-economy  World Economy

'Zona Euro Tidak Lagi Alergi Terapkan Stimulus ala Amerika'

Jumat, 4 April 2014 11:48 WIB
Dibaca 633

Monexnews - Trend perlambatan ekonomi masih membayangi zona Euro pasca krisis hutang tiga tahun lalu. Bank sentral belum berhasil menjawab tantangan tersebut meskipun sudah melakukan berbagai strategi pelonggaran moneter.

Karena alasan itulah, European Central Bank (ECB) akhirnya bersedia mengadaptasi kebijakan yang selama ini berlaku di Amerika Serikat. Kombinasi antara suku bunga negatif dan pencetakan uang baru menjadi jalan terakhir untuk menggenjot inflasi di negara-negara pengguna mata uang tunggal. Mario Draghi dan kolega sepertinya tidak alergi lagi untuk meniru strategi Federal Reserve Bank setelah berbagai program yang mereka terapkan gagal menemui hasil. Namun begitu, stimulus baru benar-benar dikucurkan apabila indikasi perlambatan masih terlihat pada pertemuan bank sentral bulan depan. 

Pada pertemuan bulanan hari Kamis (03/04), dewan kebijakan ECB memutuskan untuk menahan suku bunga di level 0.25%. Bank sentral mengklaim langkah ini melevan karena penurunan inflasi di bulan Maret diyakini hanya bersifat sementara, sebelum harga konsumen kembali naik lagi di bulan April berkat meningkatnya permintaan di sektor jasa dan pariwisata jelang Paskah. Pun demikian, Draghi memastikan kalau pihaknya tidak akan segan mengambil kebijakan baru yang lebih suportif apabila skenario itu urung terjadi.

Dewan kebijakan sudah mendiskusikan wacana pemberlakuan bunga deposito negatif kepada bank-bank dan membuka kemungkinan dirilisnya quantitative easing ala Federal Reserve Amerika. "Anggota dewan sepakat untuk menggunakan cara yang lebih berani guna membendung risiko inflasi jangka panjang," ujar Draghi di hadapan awak media setelah sesi pertemuan kemarin.

Tekanan untuk meluncurkan stimulus ekonomi mengemuka pekan ini setelah data inflasi zona Euro anjlok ke 0.5% (Maret) atau level terendahnya sejak bulan November 2009. Padahal bank sentral menargetkan inflasi ideal dekat angka 2% untuk jangka menengah. Lambatnya proses kenaikan harga sangat menghambat upaya percepatan ekonomi di sebagian besar negara. 

Di sisi lain, hasil survei purchasing manager terbaru menunjukkan bahwa trend pemulihan ekonomi tetap berjalan dan berekspansi selama sembilan bulan beruntun. Tetapi agar bisa terus beroperasi, perusahaan dan pabrik dipaksa menunrunkan harga jual produk karena minat beli konsumen belum pulih benar. Penurunan daya belanja warga Eropa sejalan dengan tingginya angka pengangguran zona Euro, yang sudah mencapai rekor tertinggi 12%.

Kritik IMF untuk ECB

Selain menuai respon beragam dari pelaku bisnis dan keuangan, bank sentral juga mendapat kritik dari pihak Dana Moneter Internasional (IMF). Lembaga kreditur ini memperingatkan iklim inflasi rendah rentan menggerus jumlah permintaan konsumsi dan menciptakan pengangguran baru. "Dibutuhkan strategi baru yang tidak biasa untuk memenuhi target inflasi ECB,' ujar Managing Director IMF, Christine Lagarde pada hari Rabu pekan ini. Menurut IMF, ECB terlalu kaku dalam menerjemahkan kebijakan sehingga misi pencapaian inflasi masih saja sulit dipenuhi.

Keputusan final ECB perihal format kebijakan baru akan sangat ditentukan oleh hasil data inflasi bulan April. Apabila kenaikan harga di tingkat konsumen tidak sesuai harapan, maka ECB hampir dipastikan merilis QE. Sayangnya, kinerja mata uang Euro yang cukup kuat justru tidak mendukung keinginan ECB. Kurs EUR/USD naik stabil dalam 12 bulan terakhir dan menyentuh posisi tertingginya sejak Oktober 2011 pada bulan lalu. Performa valuta tunggal makin menutup ruang keuntungan bagi perusahaan berbasis ekspor karena penguatan kurs berdampak pada semakin mahalnya barang dagangan mereka di luar negeri.

Menyikapi fakta ini, Mario Draghi kembali menegaskan bahwa pihaknya juga mencermati pergerakan nilai tukar dan ancamannya terhadap stabilitas harga. Melalui pernyataannya kemarin, bisa disimpulkan kalau peluang pemangkasan suku bunga makin terbuka setiap terjadi penurunan harga. Bahkan kalau guncangannya benar-benar serius, program pembelian aset niscaya segera dijalankan oleh bank sentral. Pun demikian, bos ECB juga mengatakan kalau QE yang akan dirancangnya akan berbeda dengan program stimulus milik Federal reserve. Format identik tidak dimungkinkan karena zona Euro lebih mengandalkan bank sebagai penyalur dana ke sistem perekonomian, bukan melalui obligasi dan pasar saham seperti Amerika Serikat. Sikap tegas Draghi tersebut dianggap 'dovish' oleh pelaku pasar sehingga nilai tukar Euro langsung anjlok 0.3% terhadap Dollar pasca konferensi persnya.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar